Make your own free website on Tripod.com

IDENTITAS DALAM KRISTUS

 
Istilah "identitas dalam Kristus" sebenarnya tidak dipakai dalam Alkitab, tetapi konsepnya diajarkan berulang kali, khususnya di dalam Alkitab Perjanjian Baru. Masalah identitas sangat penting sekali, sebab pada dasarnya hidup manusia dibentuk dari bagaimana ia menerima identitasnya. Bagaimana seseorang bersikap, berrespon, dan bereaksi terhadap lingkungan hidupnya adalah tergantung (sadar atau tidak sadar) pada persepsi terhadap dirinya sendiri.

Jika seorang Kristen tidak memiliki perbedaan secara mendasar dengan orang yang bukan Kristen, atau jika cara mereka memandang diri mereka tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen, maka hidup orang Kristen akan menjadi hidup yang biasa saja dan hampir tidak ada bedanya dengan mereka yang bukan Kristen. Hidup yang demikian akan menghasilkan kekalahan yang berulang-ulang dalam menjalani hidup Kristennya. Musuh kita, si Iblis, akan memanfaatkannya dengan membebani kita dengan rasa bersalah karena hidup Kristen kita hanya akan dikacaukan dengan tuntutan aturan-aturan legalistik. Jika gagal keselamatan kita akan dipertanyakan dan akhirnya kita akan menerima keberadaan hidup rohani yang naik-turun (ups and downs) sebagai keadaan yang normal. Orang Kristen yang kalah akan mengakui keburukan dan kecenderungan mereka untuk berbuat dosa. Sekalipun telah berusaha melakukan yang lebih baik, namun hatinya tetap mengakui bahwa dia hanyalah seorang pendosa yang diselamatkan oleh anugerah dan tidak ada yang dapat dilakukan selain menunggu kedatangan Tuhan yang kedua kali.

Mengapa ini menjadi gambaran kebanyakan hidup orang Kristen?  Jawabannya adalah karena ketidaktahuan mereka akan identitas yang benar di dalam Kristus. Karya Penebusan Kristus yang mengubah para pendosa menjadi orang kudus merupakan karya terbesar yang Allah kerjakan di dunia ini. Perubahan yang terjadi di dalam diri manusia ini akan berpengaruh sejak kita menerima keselamatan. Sedangkan perubahan yang dilihat dari luar masih akan terus menerus berlangsung hingga akhir hidupnya, inilah yang disebut sebagai proses 'pengudusan' (sanctification). Tetapi karya pengudusan yang terus menerus ini baru akan mempunyai pengaruh luar biasa dan penuh dalam hidup seseorang pada saat terjadi transformasi diri yang radikal, yaitu ketika seseorang seorang yang percaya menerima sifat baru di dalam Kristus, yang disadarinya dan diterimanya melalui iman.

Manusia baru yang kita terima dari Kristus akan mendapat identitas yang sama dengan Kristus, yaitu kesamaan:

   1. Dalam kematian-Nya        Roma 6:3,6; Galatia 2:20; Kolose 3:1-3
   2. Dalam penguburan-Nya    Roma 6:4
   3. Dalam kebangkitan-Nya   Roma 6:5,8,11
   4. Dalam hidup-Nya             Roma 5:10-11
   5. Dalam kuasa-Nya            Efesus 1:19-20
   6. Dalam warisan-Nya         Roma 8:16-17; Efesus 1:11-12

Rasul Paulus menjelaskan dalam 1 Timotius 1:15 bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa. Namun, pernyataan ini dibuat jelas dalam konteks (ayat 12-16) yang menunjukkan keadaannya sebelum ia diselamatkan. Dia membuat pernyataan yang serupa tentang kejatuhan harga dirinya dalam 1 Korintus 15:9, tetapi pada ayat berikutnya ia mengungkapkan, "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia." (ayat 10). Semua yang dibutuhkan untuk kehidupan yang kudus sudah kita miliki melalui kuasa Tuhan yang kita warisi dari Kristus yang hidup di dalam kita (2 Petrus 1:3; Galatia 2:20; Roma 8:37). Identitas dan tujuan orang percaya adalah di dalam Kristus. Dia menjadi pelaku Firman Tuhan karena dia telah ada di dalam Firman. Dia tidak melakukannya supaya ia menjadi seperti yang ada di dalam Firman. Tetapi, ia telah menjadi pelaku Firman yang taat karena ia telah menjadi satu dengan Kristus (Yak. 1:22-25).

Di dalam Alkitab orang-orang yang percaya disebut sebagai "saudara", "anak", "anak Allah", "anak terang", "terang dalam Allah", "orang-orang kudus", dll. Tidak pernah Alkitab menyebut orang yang percaya sebagai "pendosa", bahkan juga tidak sebagai "pendosa yang diselamatkan oleh anugerah". Mengapa demikian? Apakah orang yang percaya tidak lagi berdosa? Tentu saja orang yang percaya masih bisa melakukan dosa. Sebutan-sebutan untuk orang percaya yang diberikan oleh Alkitab tersebut adalah sesuai dengan identitas kita yang baru di dalam Kristus. Mereka telah mati terhadap dosa dan kini hidup di dalam Kristus. Kegagalan (kejatuhan dalam dosa) orang Kristen yang sejati tidak akan mengubah atau menghentikan karya Penebusan Kristus. Tetapi hal ini tidak berarti membenarkan orang Kristen gagal dan jatuh dalam dosa. Penebusan Kristus memberikan kuasa kepada orang Kristen sejati karena Kristus yang tinggal di dalam hati kita dan Dia tidak akan berubah. Jika seorang Kristen sejati menerima identitasnya sebagai pendosa maka identitas utamanya adalah dosa itu sendiri. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang telah dikatakan dalam Alkitab, karena orang yang percaya telah dibenarkan oleh iman. Seandainya seorang Kristen adalah pendosa, maka apa yang akan dilakukannya? Tentu berbuat dosa! Apa yang dapat diharapkan dari seorang pendosa? Berbuat dosa! Seorang Kristen bukanlah "pendosa yang diselamatkan oleh anugerah" tetapi "seorang kudus yang karena keadaannya di dunia masih bisa berbuat dosa"  Kuasa dosa telah dipatahkan; kehendak manusia kini dapat memilih apa yang benar karena kuasa Roh Kudus dan Kebenaran telah membebaskan manusia dari kuasa dosa (Yoh. 8:31,32). Orang percaya betul-betul bebas ketika melalui iman ia memilih untuk "menjadi" seperti apa yang ada dalam kenyataan, yaitu bahwa ia sudah "ada" di dalam Kristus.

-*- Sumber -*-
   Judul Buku : Spiritual Conflicts and Counseling: the Work Book
   Penulis    : Anderson, Neil T.
   Penerbit   : Freedom in Christ Ministries
   Halaman    : 11 - 13
(Terima kasih kepada Bp. Wesley Tanudjaja yang telah mengirimkan artikel ini. Admin)


GPdI Maranatha Medan