Make your own free website on Tripod.com

KETEGUHAN IMAN DALAM PRINSIP SALIB
Ringkasan Khotbah Pdt. Paul F.  Wakkary, Minggu  22 Juni 2003  


IBRANI 11:24
"Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun."

Musa adalah seorang anak yang lolos dari pembunuhan massal anak-anak di Mesir pada zaman raja Firaun.   Oleh puteri Firaun ia diselamatkan bahkan dididik dengan hikmat orang Mesir.  Musa menjadi seorang yang hebat, tinggal di lingkungan istana, dihormati dan tentu menjadi orang yang kaya.

Namun setelah dewasa, ia mengetahui latar belakang hidupnya dan melihat penderitaan bangsanya, Musa mengambil keputusan "menolak disebut sebagai anak puteri raja".  Ia tinggalkan lingkungan istana lalu menyamakan diri dengan bangsanya.  Sebagai orang beriman ia pilih hidup menderita bersama bangsanya daripada menikmati kesenangan sementara dari dosa.  Mesir adalah lambang dari dunia, daging, dosa dan kesenangan dunia.

Kitapun harus hidup tegas seperti Musa!  Banyak orang hidup kompromistis dengan dunia, dengan alasan supaya disebut moderat dan tidak suka disebut radikal.  Hidup yang demikian hampir sama dengan sikap raja Ahab, dengan menikahi Izebel terjadi kepincangan karena dualisme kepemimpinan antara Ahab dan Izebel. Akibatnya terjadi kekeringan (I Raja-raja 17).  Kekeringan rohani akan terjadi dalam hidup orang yang kompromistis.  Demikian juga Musa saat ia berada di lingkungan istana.  Tetapi akhirnya ia pilih lebih baik hidup menderita bersama bangsanya.  Pilihan ini merupakan pilihan yang tidak rasional.  Seringkali kita masuk dalam pilihan dimana dunia berkata "tidak rasional".  Musa menganggap penghinaan karena Kristus merupakan kekayaan yang lebih besar dari semua harta Mesir, karena matanya ia arahkan kepada upah / harta di surga.  Pandangannya terfokus kepada Tuhan, kepada hal-hal sorgawi.

Hidup yang sukses adalah apabila kita hidup dengan PRINSIP SALIB.  Lukas 9:23.  Prinsip salib adalah rela melepaskan yang paling berharga dalam hidup kita.  Paulus berkata dalam Filipi 2:5-8, "Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus..."  Pikiran dan perasaan yang ada dalam Kristus adalah SALIB.  Karena salib, Ia melepaskan atribut ke-Allahan, mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.  Musa bukan saja melepaskan, tapi ia ikut menderita.

Kita harus hati-hati terhadap dominasi teologi kemakmuran sekarang ingin merobah kekristenan dengan lambang / simbol kemenangan, kejayaan.  Memikul salib tidak hanya mengetahui, melihat, memandang salib, tapi harus mati terhadap diri sendiri, terhadap dosa, terhadap aku yang cenderung menuruti keenakannya saja.  Perhatikan pernyataan Yohanes (Yoh. 3:30).  Pikul salib itu SETIAP HARI.  Kekristenan adalah pilihan 'hari ini'.  Tuhan Yesus tidak pernah tawarkan 'yang enak-enak saja' kepada kita.  Matius 11:29, pikullah kuk yang Yesus pasang, itu enak dan ringan.  Yang 'enak' bagi kita adalah SALIB.  Ada kenikmatan yang dunia tidak dapat rasa itu nikmat.  (I Korintus 1:18-27).  Kehidupan paling menjanjikan, paling menjamin, adalah kehidupan memikul salib setiap hari.  Paulus menjadikan salib sebagai sentral dalam kehidupannya (Galatia 2:19,20).  Ia menganggap sampah semua kehebatannya.

Ada banyak hal yang harus kita lepaskan dari diri kita.  Ada harga yang harus dibayar, dipersembahkan.  Tuhan tidak pernah melarang orang menerima berkat yang enak, yang indah, bahkan Tuhan datang untuk memberi kebahagiaan bagi kita.  Tuhan memberi satu pola hidup yang sangat fundamental : prinsip salib.  Tuhan memberkati.


GPdI Maranatha Medan