Make your own free website on Tripod.com

PERKATAAN YANG MEMBANGUN
Ringkasan Khotbah Pdt. DR. M.D. Wakkary, Minggu  3 Agustus 2003  


AYUB 4:1-4
Elifas adalah salah seorang dari empat sahabat Ayub.  Pasal 4 dari kitab Ayub adalah mengutarakan percakapan Elifas dengan Ayub.  Dalam keadaan Ayub yang merana, menderita borok-borok serta duduk di atas abu, Elifas bersikeras untuk memberikan nasehat kepada Ayub, sebab sebelum sahabatnya Ayub mendapatkan percobaan tersebut, dia sering mendengar dan melihat Ayub adalah seorang yang suka membangunkan yang jatuh dengan kata-kata, mengokohkan yang lemah dengan kata-kata (ayat 4).
Setiap perkataan kita, baik perkataan jahat maupun perkataan baik semuanya mempunyai kuasa / efek.

Dalam I Samuel 17:32-33, Daud yang masih muda mampu menguatkan raja Saul yang sedang dalam ketakutan, karena ada raksasa Filistin mengancam barisan Israel.  Daud berkata: "Janganlah seorang menjadi tawar hati karena dia, hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."  Tetapi Saul menjawab dengan berkata : "Tidak mungkin....".

Dari kisah ini kita dapat melihat dua macam orang Kristen :

  1. Kristen Daud
    Daud, percaya kepada Tuhan.  Walaupun masih muda dan belum berpengalaman tetapi kata-katanya punya iman, kata-katanya memberikan optimisme.

  2. Kristen Saul
    Orang Kristen yang sudah berpengalaman tetapi waktu melihat suasana sulit timbul perkataan susah, tidak mungkin.  Kata-katanya tidak ada iman, seolah-olah tidak mempunyai Tuhan.

Untuk meyakinkan Saul, Daud bersaksi kepada Saul tentang pengalamannya.  I Samuel 17:34-37.  Orang Kristen perlu mempunyai kata-kata kesaksian dari pengalaman-pengalaman pribadi.  Banyak orang Kristen tidak mempunyai gairah dan kesungguhan dalam beribadah karena tidak mempunyai pengalaman pribadi tentang kuasa Tuhan.

Kenapa Daud yang masih remaja dapat mengalahkan singa ataupun beruang?  Jawabnya: karena Roh Tuhan berkuasa atas Daud.  (I Samuel 16:13).  Kalau kuasa Tuhan menyertai kita, ada banyak kesaksian dari pertolongan Tuhan.
Sekarang ada kebiasan-kebiasan buruk di tengah-tengah gereja yaitu saling menjelekkan, saling menyalahkan, mencari-cari kelemahan orang lain, dlsb.  Perhatikan!  Roh Kudus adalah membangun.  I Korintus 14:2-4.  Orang yang berkata-kata dengan bahasa roh adalah membangun / menguatkan diri sendiri, tetapi orang yang bernubuat adalah berkata-kata dan membangun orang lain.

Hal-hal yang harus dihindari supaya kata-kata kita dapat menguatkan.  Efesus 4:25,29; Efesus 5:4 adalah :
-  buanglah dusta / bohong dan berkata benar
-  jangan ada perkataan kotor tetapi pakailah perkataan yang baik
-  jangan ada perkataan kosong / sembrono / sia-sia, tetapi kata-kata ucapan syukur.  

Anak-anak Tuhan harus penuh dengan Roh dan berkata-kata seorang kepada yang  lain dalam mazmur, pujian, nyanyian rohani dan ucapkanlah syukur senantiasa (Efesus 5:18-20).  Rahasia kesuksesan orang tua dalam mendidik anak apabila mulut itu pertama-tama mengucap syukur kepada Tuhan, memuji menyembah Tuhan dan menghindari perkataan-perkataan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Mari kita latih diri kita supaya kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah membangunkan dan menguatkan orang lain (Ibrani 10:25,24).  Tuhan memberkati.


GPdI Maranatha Medan